Opini  

JAKARTA UTARA: BUKAN PINGGIRAN IBU KOTA, MELAINKAN BERANDA DEPAN INDONESIA MENUJU KOTA GLOBAL

Oleh: Iwan Iryansyah Setiawan – Pemerhati Prestasi & Aktivis Sosial Masyarakat

Selama ini, ketika berbicara tentang Jakarta, sebagian besar perhatian masyarakat selalu tertuju pada kawasan Sudirman, Thamrin, dan SCBD. Gedung-gedung pencakar langit, pusat perkantoran, kawasan bisnis modern, serta gemerlap kehidupan metropolitan seolah menjadi representasi utama wajah Jakarta.

Namun, ada satu kawasan yang sesungguhnya memiliki peran sangat fundamental bagi kehidupan ekonomi Jakarta, bahkan perekonomian nasional, yaitu Jakarta Utara.

Jakarta Utara bukan sekadar wilayah administratif di bagian utara ibu kota. Kawasan ini merupakan simpul strategis perdagangan, industri, logistik, maritim, dan konektivitas ekonomi Indonesia dengan dunia internasional.

Ada sebuah perspektif yang perlu kita bangun bersama: jika Sudirman dan SCBD menjadi wajah modernitas bisnis Jakarta, maka Jakarta Utara merupakan salah satu sumber energi ekonomi yang menggerakkan denyut kehidupan kota dan bangsa.

## JAKARTA UTARA HARI INI: POTENSI BESAR, TANTANGAN NYATA

Secara geografis dan ekonomi, Jakarta Utara memiliki posisi yang sangat strategis. Sebagai wilayah Jakarta yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa, kawasan ini mempunyai keunggulan maritim yang tidak dimiliki wilayah Jakarta lainnya.

Setidaknya terdapat tiga kekuatan utama yang menjadikan Jakarta Utara sebagai kawasan strategis nasional.

1. Gerbang Ekonomi dan Perdagangan Nasional

Keberadaan Pelabuhan Tanjung Priok menjadikan Jakarta Utara sebagai salah satu pintu utama arus perdagangan Indonesia dengan berbagai negara. Aktivitas ekspor-impor, distribusi barang, pergudangan, transportasi, dan logistik nasional memiliki keterkaitan erat dengan kawasan ini.

Tanjung Priok bukan hanya pelabuhan bagi Jakarta, tetapi juga infrastruktur penting yang mendukung pergerakan ekonomi Indonesia.

2. Pusat Industri, Perdagangan, dan Bisnis

Jakarta Utara memiliki ekosistem ekonomi yang sangat beragam, mulai dari kawasan industri KBN, Sunter, pusat perdagangan Mangga Dua, kawasan bisnis Pluit, hingga Kelapa Gading.

Kombinasi sektor industri, perdagangan, jasa, properti, dan logistik menciptakan aktivitas ekonomi yang memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian Jakarta.

3. Kawasan dengan Dua Wajah Pembangunan

Di balik potensi besarnya, Jakarta Utara masih menghadapi persoalan ketimpangan pembangunan.

Di satu sisi, terdapat kawasan modern seperti Pantai Indah Kapuk (PIK) yang berkembang dengan infrastruktur, fasilitas komersial, dan lingkungan perkotaan modern.

Namun, di sisi lain, masih terdapat masyarakat pesisir di wilayah Cilincing, Penjaringan, dan kawasan lainnya yang menghadapi tantangan dalam akses pendidikan, lapangan kerja, peningkatan keterampilan, infrastruktur dasar, serta kesempatan ekonomi.

BACA JUGA  DUA WAJAH JAKARTA UTARA: KAYA POTENSI, TETAPI RAKYATNYA HARUS IKUT MENIKMATI

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah kota tidak boleh hanya diukur dari megahnya bangunan dan pesatnya investasi, tetapi juga dari seberapa besar masyarakatnya mendapatkan manfaat pembangunan.

Jakarta Utara harus tumbuh bersama seluruh warganya.

## MENUJU 500 TAHUN JAKARTA: MOMENTUM KEBANGKITAN JAKARTA UTARA

Tahun 2027 menjadi momentum bersejarah bagi Jakarta. Kota ini akan memasuki usia 500 tahun sejak berdirinya pada 22 Juni 1527.

Lima abad perjalanan Jakarta bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan kesempatan untuk melakukan refleksi dan merumuskan arah pembangunan masa depan.

Terlebih setelah tidak lagi menyandang status sebagai ibu kota negara, Jakarta memiliki tantangan sekaligus peluang baru untuk memperkuat identitas dan peran strategisnya.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta memberikan landasan bagi transformasi Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional dan kota global.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memiliki ambisi untuk meningkatkan posisi Jakarta dalam jajaran kota global, termasuk melalui target masuk 50 besar Global Cities Index pada 2030.

Dalam konteks tersebut, Jakarta Utara harus ditempatkan sebagai salah satu kawasan prioritas dalam strategi transformasi Jakarta.

Mengapa?

Karena kota global tidak cukup hanya memiliki gedung pencakar langit, pusat keuangan, dan kawasan bisnis modern. Kota global juga membutuhkan pelabuhan berkelas dunia, sistem logistik yang terintegrasi, kawasan industri berdaya saing, lingkungan pesisir yang berkelanjutan, serta sumber daya manusia yang unggul.

Dan Jakarta Utara memiliki modal untuk memainkan peran tersebut.

LIMA POTENSI EMAS JAKARTA UTARA MENUJU KOTA GLOBAL

Menurut saya, terdapat lima potensi strategis yang perlu menjadi perhatian bersama dalam membangun masa depan Jakarta Utara.

1. Menjadi Pusat Logistik dan Maritim Berkelas Global

Pelabuhan Tanjung Priok harus terus dikembangkan sebagai pusat konektivitas perdagangan internasional.

Modernisasi pelabuhan, digitalisasi sistem logistik, integrasi transportasi barang, peningkatan efisiensi distribusi, dan penguatan ekosistem maritim harus menjadi agenda jangka panjang.

Jakarta Utara harus mampu menjadi salah satu simpul utama rantai pasok global yang memperkuat daya saing Indonesia.

2. Mengembangkan Kawasan Heritage dan Ekonomi Kreatif

Jakarta Utara memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa.

BACA JUGA  Bung IRS 72: DEMONSTRASI DAMAI ADALAH HAK KONSTITUSIONAL RAKYAT, PEMERINTAH HARUS MENDENGAR BUKAN MEMBUNGKAM

Kawasan Kota Tua, Sunda Kelapa, jejak sejarah pelabuhan, budaya masyarakat pesisir, serta keberagaman komunitas merupakan aset yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif dan pariwisata sejarah.

Pengembangan kawasan heritage tidak boleh hanya berorientasi pada bangunan fisik, tetapi juga harus menghidupkan kegiatan seni, budaya, kuliner, UMKM, dan kreativitas generasi muda.

Sejarah harus menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus identitas kota.

3. Mendorong Industri Hijau dan Ekonomi Sirkular

Sebagai kawasan industri dan perdagangan, Jakarta Utara memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor transformasi industri yang lebih ramah lingkungan.

Pengelolaan limbah industri, pemanfaatan energi bersih, daur ulang, pengembangan teknologi ramah lingkungan, serta efisiensi penggunaan sumber daya harus menjadi bagian dari pembangunan masa depan.

Pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan kualitas lingkungan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.

Jakarta Utara harus mampu membuktikan bahwa kemajuan industri dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.

4. Membangun Integrasi Menuju Kota Global

Jakarta Utara membutuhkan konektivitas yang semakin baik dengan kawasan pusat Jakarta, wilayah penyangga, pelabuhan, bandara, serta pusat-pusat pertumbuhan ekonomi lainnya.

Integrasi transportasi publik, infrastruktur digital, kawasan perdagangan, fasilitas pendidikan, dan pusat pelayanan masyarakat menjadi kebutuhan penting.

Kota global bukan hanya tentang kemudahan berinvestasi, melainkan juga tentang kemudahan masyarakat untuk bergerak, bekerja, belajar, dan mendapatkan pelayanan berkualitas.

**5. Meningkatkan Kualitas SDM dan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir**

Inilah salah satu agenda yang menurut saya paling penting.

Jangan sampai pembangunan Jakarta Utara hanya menghasilkan pertumbuhan investasi, sementara masyarakat lokal justru tertinggal dan tidak mendapatkan kesempatan yang seimbang.

Masyarakat pesisir, nelayan, pelaku UMKM, pekerja informal, serta generasi muda harus menjadi bagian utama dari transformasi ekonomi.

Peningkatan keterampilan kerja, pendidikan vokasi, pelatihan teknologi digital, akses permodalan, pendampingan UMKM, dan perluasan kesempatan kerja harus diperkuat.

Kita ingin anak-anak muda Jakarta Utara bukan hanya menjadi penonton perkembangan kawasan industri dan bisnis, tetapi mampu menjadi tenaga profesional, pengusaha, inovator, dan pelaku ekonomi masa depan.

**Kemajuan Jakarta Utara harus tercermin dalam meningkatnya kualitas hidup masyarakatnya.**

## JANGAN BIARKAN JAKARTA UTARA HANYA MENJADI PENOPANG EKONOMI

Ada satu hal yang perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan: Jakarta Utara jangan hanya diposisikan sebagai kawasan penopang ekonomi Jakarta, tetapi harus diberikan ruang yang lebih besar untuk berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

BACA JUGA  Pers Mahasiswa di Era AI dan Gempuran Disrupsi Media

Pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas masyarakat, dan generasi muda harus membangun kolaborasi.

Investasi perlu didorong, tetapi harus disertai pemerataan manfaat. Infrastruktur harus dibangun, tetapi kebutuhan masyarakat juga harus menjadi prioritas. Kawasan industri harus berkembang, tetapi lingkungan pesisir harus tetap dilindungi.

Kita membutuhkan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan angka ekonomi, melainkan juga menghadirkan keadilan sosial dan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat.

Momentum 500 tahun Jakarta seharusnya menjadi titik awal untuk mengubah cara pandang terhadap Jakarta Utara.

Bukan lagi sebagai kawasan yang hanya dikenal karena pelabuhan, industri, dan kawasan pergudangannya, melainkan sebagai kawasan strategis yang memiliki masa depan besar dalam peta ekonomi global.

JAKARTA UTARA ADALAH BERANDA DEPAN INDONESIA

Pada akhirnya, saya ingin menegaskan bahwa Jakarta Utara bukan pinggiran Jakarta.

Jakarta Utara adalah kawasan strategis yang menghubungkan Indonesia dengan dunia. Dari pelabuhan, kawasan industri, pusat perdagangan, hingga kehidupan masyarakat pesisir, semuanya memiliki peran penting dalam membangun masa depan ekonomi bangsa.

Jika Jakarta ingin benar-benar menjadi kota global pada 2030, maka pembangunan Jakarta Utara tidak boleh berjalan setengah hati.

Kita harus memastikan bahwa transformasi Jakarta menjadi kota global tidak hanya terlihat dari gedung-gedung megah, tetapi juga dari pelabuhan yang semakin kompetitif, industri yang semakin modern, lingkungan yang semakin sehat, serta masyarakat yang semakin sejahtera.

Lima abad Jakarta harus menjadi momentum untuk membangun kota yang lebih maju, inklusif, berdaya saing, dan berkeadilan.

Jangan hanya melihat Jakarta dari Sudirman dan SCBD. Lihatlah juga Jakarta Utara, tempat denyut perdagangan dan konektivitas ekonomi Indonesia bertemu dengan dunia.

Karena sesungguhnya, Jakarta Utara bukan sekadar halaman belakang ibu kota.

JAKARTA UTARA ADALAH BERANDA DEPAN INDONESIA MENUJU DUNIA,”tutup bung IRS.72 panggilan akrab Iwan Iryansyah Setiawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP