Panglima dan Letnan Songong: Kisah Lucu tapi Menggetarkan dari Kolonel Alex Kawilarang

Jakarta, iTodayNews.id – Dalam sejarah militer Indonesia, nama Kolonel Alexander Evert Kawilarang sosok gagah pendiri Kopassus lebih sering dikenang karena ketegasan dan jiwa kepemimpinannya. Namun, di balik wibawa dan kehebatannya, terselip satu kisah ringan tapi legendaris yang menggambarkan pesonanya sebagai manusia: cerita tentang “Letnan Songong” yang keliru menebeng sang Panglima sendiri.

Perwira Tampan yang Sering Disangka Saudagar

Dengan postur tinggi semampai, kulit putih, dan mata sipit, Kawilarang memiliki paras yang jarang dimiliki prajurit pribumi pada zamannya. Sosoknya yang tegap dan berwibawa kerap disangka sebagai keturunan Indo-Belanda.
Bahkan, banyak prajurit tak menyadari bahwa pria berpenampilan “Eropa” itu adalah panglima mereka sendiri. Saat mengenakan pakaian sipil, pesonanya justru membuatnya tampak seperti seorang saudagar kaya rapi, tenang, dan berkelas.

Kisah di Jalan Raya Cimahi

Suatu hari di tahun 1950-an, di tepi jalan raya Cimahi, seorang letnan dua berdiri di pinggir jalan, berharap menumpang mobil menuju Karawang. Tak lama, sebuah mobil lewat, dan sang letnan pun menumpang tanpa curiga. Di kursi belakang duduk seorang pria berwajah oriental dengan gaya kalem Kolonel Alex Kawilarang, Panglima Divisi Siliwangi.

BACA JUGA  ATR/BPN Perkuat Reformasi Birokrasi, Kantor Pertanahan Denpasar Raih WBBM dan 31 Satker Mendapat Predikat WTAB

Sang letnan, tidak mengenali siapa penumpang di sebelahnya, bersikap santai dan bertingkah layaknya orang yang merasa sejajar. Dengan gaya sok akrab, ia mengajak bicara, melontarkan candaan, bahkan menyilangkan kaki dengan seenaknya di jok mobil sang panglima.

“Rokok, Bah!” Kesopanan yang Luntur

Tanpa sungkan, sang letnan mengeluarkan sebungkus rokok Commodore dari sakunya, menyalakan sebatang, lalu menawarkan satu kepada sang penumpang yang ia panggil “Babah” panggilan khas untuk pria Tionghoa peranakan.
“Rokok, Bah!” katanya dengan nada santai.

Sang “Babah” hanya tersenyum dan menerima tawaran itu. Obrolan pun mengalir ringan. Si letnan banyak membual tentang beratnya hidup sebagai tentara dan enaknya jadi saudagar.

> “Wah, jadi tentara berat. Tanggung jawab berat. Enak jadi saudagar,” ujarnya sambil tertawa.
“Tapi kerja saudagar juga berat,” jawab sang “Babah” tenang.
“Biar berat, untungnya pun berat!” balas si letnan dengan pongah.

Rokok Kalengan yang Membuka Mata

Tak lama, “Babah” itu membalas sopan dengan menawarkan rokoknya sendiri rokok kalengan mahal. Si letnan pun makin yakin bahwa pria di sampingnya benar-benar saudagar tajir. Dengan santainya ia menerima, mengisap, dan mengotori asbak mobil dengan abu rokoknya tanpa rasa sungkan.

BACA JUGA  Ajak Anak Ambon & Cibitung Kejar Mimpi, Pelindo Solusi Logistik Gelar Pelindo Mengajar

Namun, ketenangan si letnan perlahan goyah. Ia mulai memperhatikan sikap sopir yang sangat hormat dan sigap, seolah sedang mengawal orang penting.
Kecurigaan itu makin kuat ketika angin dari jendela meniup bungkusan koran di sampingnya, menyingkap selembar kemeja khaki berhiaskan tiga bintang emas di pundak tanda pangkat kolonel.

Wajah Pucat di Purwakarta

Wajah si letnan langsung pucat pasi. Dalam sekejap, ia sadar bahwa “Babah” yang dia ajak bercanda dan sodorkan rokok itu bukan orang sembarangan itulah Panglima Divisi Siliwangi, Kolonel Alex Kawilarang!

Tak menunggu lama, sebelum mobil sampai Karawang, ia meminta turun di Purwakarta, dengan alasan ingin naik kereta. Padahal jelas ia tidak sanggup lagi duduk satu mobil dengan sang Panglima setelah menyadari kesalahannya.

Kisah yang Menjadi Legenda di Kalangan Siliwangi

Peristiwa kocak itu kemudian menjadi buah bibir di kalangan perwira Siliwangi. Semua tahu, hanya Alex Kawilarang yang bisa menanggapi sikap “letnan songong” itu dengan senyum dan kesabaran, bukannya amarah.

Majalah Minggu Pagi tahun 1954 bahkan menulis kisah ini dengan gaya jenaka, menggambarkan Kawilarang sebagai sosok yang wajahnya “lebih mirip saudagar dari lembah Sungai Hoang-Ho, atau pedagang kaya dari Osaka.”

BACA JUGA  BPN Provinsi Banten, Harison Mocodompis: Komunikasi Efektif Bangun Kepercayaan Masyarakat

Lebih dari Sekadar Panglima

Kisah kecil ini menyingkap sisi lain dari seorang panglima yang berjiwa besar. Kawilarang bukan hanya tangguh di medan perang, tetapi juga rendah hati dalam keseharian.
Ia tak marah ketika disangka saudagar, tak tersinggung saat ditegur dengan nada sok akrab. Justru di situlah terlihat kebesaran jiwanya seorang prajurit sejati yang tetap manusiawi, bahkan dalam situasi paling tidak terduga.

Sumber : Historia.id
#AlexKawilarang
#PanglimaSiliwangi
#KopassusLegend
#SejarahTNI
#CeritaMiliter
#LetnanSongong
#HumorSejarah

(*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP