Lurah Pedemangan Barat Daur Ulang Sisa Sayur dan Buah Jadi Kompos Fermentasi, Kurangi Timbunan Sampah Pasar

JAKARTA, iTodayNews.ID –—– Pemerintah Kelurahan Pedemangan Barat menghadirkan inovasi pengelolaan sampah organik melalui program daur ulang sisa sayur dan buah menjadi kompos fermentasi non-kimia. Program ini menjadi salah satu produk unggulan kelurahan dalam upaya mengatasi permasalahan penumpukan sampah pasar sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Lurah Pedemangan Barat menjelaskan, gagasan ini muncul dari keprihatinan terhadap tumpukan sampah organik yang sering menimbulkan bau tidak sedap dan mencemari lingkungan, termasuk air lindi yang bisa merusak kendaraan pengangkut sampah. Dari permasalahan itu, ia melihat peluang untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

“Sampah sayur dan buah di wilayah kami sudah menjadi persoalan serius. Dari situ saya berpikir, ini harus jadi peluang, bukan sekadar beban. Maka kami bentuk tim bersama warga, pakar lingkungan, dan PPSU untuk mengubah sisa sayur dan buah menjadi kompos fermentasi non-kimia,” ujar Lurah Pedemangan Barat.

Dalam prosesnya, kelurahan bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan pakar lingkungan, Pak Iwan, yang menjadi mentor dan narasumber dalam pembuatan kompos. Sampah organik dikumpulkan dari pedagang sayur, buah, dan rumah tangga. Setelah dipilah, bahan-bahan tersebut digiling menggunakan mesin pengolah khusus, kemudian difermentasi secara alami tanpa bahan kimia.

BACA JUGA  Gerakan Pandeglang Bersih Gelar Aksi di Istana Negara dan KLHK RI, Desak Penanganan Dugaan Pencemaran Lingkungan

“Kami juga menambahkan kotoran hewan (kohe) dari Cigadung dan Bandung sebagai bahan campuran. Setelah melalui proses fermentasi dan penjemuran selama tiga sampai tujuh hari, barulah kami kemas dalam bentuk pupuk siap pakai,” jelas Lurah.

Hasil produksi kompos ini telah mencapai sekitar 1 ton 10 kilogram yang telah didistribusikan ke warga sekitar. Selain untuk mengurangi volume sampah, pupuk organik ini juga dimanfaatkan oleh warga pecinta tanaman di rumah tangga dan komunitas urban farming.

“Kompos ini murni non-kimia, ramah lingkungan, dan sangat baik untuk tanaman. Kami sudah uji coba menanam bawang Brebes dan hasilnya tumbuh subur. Banyak warga memberi testimoni positif,” tambahnya.

Sementara itu, Bu Sri, petugas PPSU yang ikut dalam tim pengelola kompos, menjelaskan tahapan teknis pembuatan hingga pemasaran.

“Kami mengumpulkan sisa sayur dan buah dari pasar, lalu digiling tanpa plastik, dicampur dengan kohe, VOC, dan starter alami. Setelah seminggu fermentasi dan penjemuran, kami ayak dan kemas dalam ukuran 5 kilogram. Kompos ini sudah dipasarkan hingga ke Bekasi dan Tangerang,” ujar Bu Sri, anggota PPSU Pedemangan Barat.

BACA JUGA  Deklarasi Damai & Doa Bersama Warga Jakarta Utara: Wujudkan Kota Aman dan Nyaman dalam Kebersamaan

Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari gerakan peduli lingkungan di tingkat RW dan RT untuk mengurangi sampah rumah tangga.

“Program ini bukan hal yang jorok, tapi sangat bermanfaat. Banyak warga yang kini mulai sadar bahwa sampah organik bisa jadi sumber ekonomi dan menjaga lingkungan tetap bersih,” imbuhnya.

Program inovatif ini terus dikembangkan oleh Kelurahan Pedemangan Barat, tidak hanya untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat, tetapi juga untuk memberdayakan masyarakat agar lebih mandiri dan produktif melalui pengelolaan sampah berkelanjutan.
(IDS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP